Kolam Panas dan Cacing untuk Terapi Autisme

KOMPAS.com — Sebuah terapi yang tidak biasa untuk penyembuhan autisme kini tengah dikembangkan oleh para peneliti di Amerika Serikat. Mereka menggunakan kolam panas untuk meningkatkan suhu tubuh sebagai bagian dari terapi. Selain itu, mereka juga mengembangkan terapi menggunakan cacing parasit untuk menyembuhkan gangguan tersebut.

Para peneliti mengatakan, riset ini mendukung teori yang menyebutkan bahwa respons inflamasi tubuh yang terganggu berperan dalam terjadinya autisme. “Ada bukti yang menyebutkan inflamasi memiliki peran yang penting dalam gejala neuropsikiatri,” ujar ketua penelitian Eric Hollander, profesor di Albert Einstein College of Medicine di New York.

Menurut hipotesis hygiene, orang yang berpindah dari pedesaan ke perkotaan mengalami perubahan flora normal dalam pencernaannya. Hal inilah yang berkaitan dengan penyakit peradangan imun.

Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan, satu dari 88 anak mengalami beberapa bentuk autisme. Bukti menunjukkan, kondisi tersebut merupakan hasil dari sistem imun yang terlalu aktif sehingga inflamasi dalam tubuh pun tinggi.

Teori tersebut juga didukung oleh fakta yang menunjukkan saat mengalami demam, gejala klinis anak autis membaik. Ini karena saat temperatur tubuh tinggi, sistem tubuh akan mengeluarkan sinyal anti-inflamasi yang protektif.

Untuk membuktikannya, Hollander dan timnya menguji coba anak penyandang autisme untuk ditempatkan pada kolam panas dengan suhu 36,7 hingga 39 derajat celsius. Ternyata saat ditempatkan pada kolam panas bersuhu 39 derajat celsius, ada perbaikan dari gejala autisme dibandingkan dengan suhu 36,7 derajat.

Dalam tahap kedua, para peneliti mengukur manfaat yang didapatkan dari Trichuris suis ova (TSO) , telur dari cacing parasit helminth trichura. Cacing tersebut dikenal sebagai parasit pada babi, tetapi tidak pada manusia, sehingga tidak menyebabkan penyakit saat berada pada saluran pencernaan manusia.

Untuk bisa bertahan hidup dalam tubuh manusia, maka cacing tersebut harus meredam inflamasi. Studi sebelumnya menunjukkan, TSO sukses mengatasi penyakit imun tertentu, seperti penyakit Crohn. Inilah yang menjadi dasar peneliti untuk optimistis menggunakannya pada pasien autisme.

Dalam studi tersebut, peserta diminta untuk menelan 2.500 telur cacing dalam bentuk sediaan pil setiap dua minggu selama 12 minggu. Mereka juga diberi plasebo di 12 minggu lainnya pada beberapa peserta yang dipilih acak. “Hasilnya, ada kemajuan yang terlihat pada peserta yang diberi pil telur cacing,” ujar Hollander.

Kendati demikian, para peneliti mengaku masih harus mengembangkan penelitian ini lebih jauh lagi. Hal itu guna mengantisipasi adanya deviasi dari data temuan sebelumnya.

Sumber : http://www.foxnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: