Anak Boleh Makan Permen atau Tidak, Sih?

Tanggal 31 Oktober dirayakan sebagai malam Halloween. Budaya tersebut sebenarnya tidak ada di Indonesia. Namun, lambat laun, pengaruh budaya Halloween dari negara barat mulai masuk ke Indonesia. Salah satu hal yang diingat saat Halloween adalah permen. Orang tua di negara Barat mungkin berpikir tidak ada salahnya memberikan permen sekali setahun saat Halloween. Sama seperti halnya orang tua di Indonesia yang membolehkan anaknya mengonsumsi permen di akhir pekan atau saat ada teman mereka yang berulang tahun. Namun, sebenarnya, bolehkah memberikan permen bagi anak? Dan seberapa banyak permen itu aman bagi anak?

Sebelum menjawab itu, Dr. Mark Burhenne, dokter gigi dari Silicon Valley menegaskan orang tua untuk memahami terlebih dulu, seberapa buruk permen bagi anak? “Efek permen terhadap anak-anak kita dua kali lipat. Ada efek biologis yang kita semua tahu dapat merusakkan gigi. Ada juga efek psikologis lain dari konsumsi permen,” terang dokter gigi keluarga dan kosmetik yang telah berpraktik selama 25 tahun ini.

Gula, lanjut pendiri Ask the Dentist seperti dikutip CNN Health, mengubah pengecap rasa pada lidah anak. “Dengan memaparkan makanan padat gula pada anak, kita merusak perasa mereka terhadap manisnya buah segar dan menyediakan makanan super bagi bakteri yang akan membuat gigi rusak,” lanjut Dr. Mark.

Efek yang ditimbulkan dari sekali menyantap permen juga akan bertahan lama. Sekali pesta permen di Halloween setiap tahun akan menimbulkan perubahan sensitivitas indera pengecap. Yang bisa membuat anak mengidam-idamkan akan sesuatu yang lain, seperti minuman bersoda.

Selain itu, kecanduan gula juga mengaktifkan bagian yang sama dari otak seperti halnya ketagihan kokain. Dengan kata lain, akankah Anda membiarkan anak-anak menikmati kokain sekali setahun?

Sebabnya, permen bisa menjadi pintu masuk terhadap penyakit sistemik serius. Juga berperan dalam kesehatan gigi anak di masa depan. Gigi rusak bisa semakin banyak dan semakin dini orang memiliki masalah dengan gigi saat dewasa seperti gigi berlubang, masalah saluran akar, cabut gigi, tanam gigi, atau semuanya.

Anak lebih rentan terhadap efek permen ketimbang orang ddewasa. Karena mereka abai dengan membersihkan gigi maupun menggunakan benang gigi atau tindakan lain guna meniadakan efek dari keputusan buruk tersebut.

Karenanya, memperlambat kerusakan selama masa kanak-kanak dan remaja, dengan tidak memberikan permen, akan memotong waktu penting dan rentan dalam hidupnya. Meski demikian, Dr. Mark mendorong para orang tua untuk menanyakan kepada diri mereka sendiri sebelum membolehkan anak mengonsumsi permen.

Apakah saya mendorong anak untuk berperilaku sehat sebelum Halloween? Satu tanggung jawab dari orang tua adalah mendidik anak dan mengeset anak dengan perilaku sehat yang akan mereka bawa hingga ke masa dewasa bahkan ke generasi berikutnya.

“Kita tidak ingin menghalangi anak mendapat permen saat perayaan Halloween. Namun, pemodelan dan mengajarkan tentang hal yang terjadi kemudian akan menentukan perilaku mereka untuk hidupnya nanti saat dikelilingi oleh permen,” tegas Dr. Mark.

sUMBER: http://www.sehatnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: